Peristiwa Pedagang Es Gabus yang Viral dan Berbagai Kontroversi
Seorang pedagang es gabus bernama Suderajat menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Kejadian ini bermula ketika ia dituduh menggunakan bahan spons dalam produk dagangannya. Akibatnya, ia mengalami penganiayaan dari oknum aparat, yaitu polisi dan TNI. Meskipun begitu, kejadian tersebut akhirnya berakhir dengan perdamaian.
Penganiayaan oleh Oknum Aparat
Suderajat mengungkapkan bahwa kejadian itu terjadi saat ada seorang bocah yang membeli dagangannya. Ayah dari lima orang anak tersebut mengaku wajahnya dipukul, kakinya ditendang menggunakan sepatu lars. Bahkan, ia juga mengaku disabet tubuhnya menggunakan selang daj dan diancam akan digantung oleh oknum tersebut. Akibat penganiayaan yang dialaminya, Suderajat terluka pada sejumlah bagian tubuhnya seperti di area wajah, bahu, dan kaki kanannya.
Menurutnya, dalam peristiwa tersebut terdapat sejumlah orang yang berada di lokasi mulai dari pengurus lingkungan, pejabat kelurahan, dan oknum aparat. Meski begitu, Suderajat hanya bisa pasrah dan berharap kejadian ini mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Permintaan Maaf dari Polisi dan TNI
Setelah kejadian tersebut, Bhabinkamtibmas Aiptu Ikhwan Mulyadi dan Babinsa Serda Heri Purnomo akhirnya menemui langsung pedagang es gabus, Suderajat (49) di mushala, Bojonggede, Bogor, Selasa (27/1/2026) malam. Dalam pertemuan itu, Aiptu Ikhwan dan Serda Heri meminta maaf kepada Suderajat usai menuduh es gabus memakai spons dan menganiaya di Kemayoran, Jakarta, Sabtu (24/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Aiptu Ikhwan dan Serda Heri didampingi Dandim 0501/JP, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra, Danramil 04 Bojonggede Mayor Arm Ruwijo, Danramil Kemayoran Mayor CPN M. Firdaus, Kapolsek Johar Baru Kompol Saiful, Kapolsek Bojonggede AKP Abdullah Syafei, dan Kades Rawa Panjang Mohammad Agus.
Berdasarkan video yang diterima Kompas.com, mereka bertemu di salah satu mushala dekat kontrakan Suderajat. Ikhwan dan Heri terlihat berdiri mengapit Suderajat. Aiptu Ikhwan menyampaikan permintaan maafnya karena tidak ada niat sengaja untuk melukai Suderajat. Setelahnya, Heri juga bersalaman dengan Suderajat dan memohon maaf.
Bantuan dari TNI
TNI melalui Kodim 0501/Jakarta Pusat memberikan bantuan berupa satu unit kulkas, satu dispenser, dan satu kasur springbed untuk mendukung usaha Suderajat dan kenyamanan keluarganya. Kodim menegaskan peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Aparat juga menyatakan akan melakukan evaluasi internal dan memberikan sanksi disiplin kepada anggota yang terlibat.
Kehidupan Suderajat dan Keluarga
Selama 30 tahun berjualan es gabus, Suderajat mengaku sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup sebagai pedagang kecil. Ia juga menyebut peristiwa pemukulan dan penganiayaan tersebut sebagai ujian hidup yang ia terima dengan lapang dada. Ia tidak memiliki keinginan agar para oknum yang terlibat diproses secara hukum atau dijatuhi sanksi lebih tegas.
“Pada maaf semua, (saya) udah ikhlas dari (karena) Allah. Namanya musibah kan, Allah Maha kuasa udah tahu,” kata Suderajat.
Keputusan itu diambil agar ia bisa kembali berjualan dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarganya. Suderajat juga menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterimanya, termasuk TV, kulkas, elektronik, dan perabotan. Ia juga berencana untuk naik haji bersama keluarganya.
Kontroversi Terkait Uang Bantuan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi heran dibuat bingung ketika mengetahui rencana pedagang es kue Suderajat mengelola uang bantuan pemberian darinya. Dedi Mulyadi tak menyangka, uang yang diberikan bukan dipakai untuk usaha, melainkan untuk menikahkan anaknya. Padahal, uang tersebut diberikan untuk melunasi utang dan membiayai kebutuhan sehari-hari seperti yang dikeluhkan Suderat.
Rasa simpati itu berawal karena iba atas fitnahan dari oknum TNI dan polisi yang menuding Suderajat memakai bahan spons dalam es kue gabus jualannya. Suderajat bahkan menerima banyak bantuan berupa uang puluhan juta, bantuan renovasi rumah, motor, sampai umroh gratis. Termasuk Dedi Mulyadi memberi uang Rp 15 juta.
Status Rumah dan Pendidikan Anak
Suderajat dan Istri Alami Indikasi Disabilitas. Sebelumnya, Suderajat bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dalam pertemuan tersebut, Suderajat disebut banyak berbohong soal bantuan dan tempat tinggalnya yang mengaku ngontrak namun ternyata mempunyai rumah sendiri.
Camat Bojonggede Tenny Ramdhani menegaskan, Suderajat tinggal di kontrakan bukan karena tidak memiliki rumah, melainkan karena rumahnya sedang direhabilitasi melalui program bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Selama proses pembangunan berlangsung, Suderajat diungsikan sementara ke kontrakan.
Hasil asesmen lintas instansi menemukan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi itu diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya cukup terbatas.
Kesimpulan
Peristiwa yang dialami Suderajat menjadi contoh betapa pentingnya kejujuran dan kesadaran akan tanggung jawab dalam masyarakat. Meski mengalami penganiayaan, ia tetap memaafkan dan menganggap peristiwa tersebut sebagai musibah. Dengan bantuan dari berbagai pihak, ia berharap dapat kembali menjalani kehidupan normal dan menjalankan usahanya dengan baik.