Sinyal 5G Hilang, Pengguna Jabotabek Pilih Gunakan Jaringan 4G

Bang Hendra
0

Masalah Konektivitas Jaringan 5G di Indonesia

Pengguna layanan jaringan 5G di Indonesia mengeluhkan stabilitas koneksi yang masih kurang optimal. Banyak pengguna memilih untuk mengatur perangkat mereka ke jaringan 4G hanya karena lebih stabil.

Saat ini, operator seluler sedang gencar melakukan pemasangan jaringan 5G di berbagai wilayah. Namun, meskipun penyebaran agresif dilakukan, banyak pengguna 5G masih merasakan ketidakstabilan jaringan, bahkan di pusat kota.

Salah satu pengguna 5G bernama Krisna (23) mengatakan bahwa jaringan 5G terasa cepat saat digunakan untuk mengunduh atau streaming video. Namun, situasi berbeda ketika digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

“Tidak begitu berpengaruh saat aktivitas biasa. Saya lebih memilih stabilitas daripada kecepatan. Sinyal sering hilang dan beralih antara 4G dan 5G,” ujar Krisna kepada Bisnis, Senin (16/2/2026).

Selain itu, Krisna juga merasakan ketidakmerataan jaringan 5G saat bepergian. Misalnya, saat berada di Jakarta dia mudah mendapatkan sinyal 5G. Namun, saat pergi ke daerah seperti Tangerang, layanan berubah menjadi 4G, meskipun masih berada di sekitar pusat kota.

Krisna berharap ke depannya jaringan 5G bisa lebih merata dan sinyal diperkuat, diikuti dengan harga internet yang lebih murah.

“Negara lain sudah memiliki internet yang cepat, tapi di Indonesia mahal dan saat hujan sedikit langsung lemot, bahkan main game jadi patah-patah,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh pengguna lain bernama Viki. Ia mengaku terbantu dengan jaringan 5G, meskipun dari sisi kecepatan tidak berbeda jauh dibanding jaringan sebelumnya, dengan selisih sekitar 5 sampai 10 Mbps.

Saat ini, Viki merasakan penggunaan jaringan 5G di daerah Jakarta, Tangerang Selatan, dan Tangerang Kota masih terbatas di sebagian kecamatan. Tidak hanya itu, ia juga mengeluhkan sinyal yang sering hilang meskipun sudah mengubah pengaturan jaringan operator.

“Sinyal 5G suka hilang-hilang, itu bikin saya jengkel. Jadi saya ubah settingan jaringan operator sementara ke LTE only (4G/4G+), itu bisa dicek,” kata Viki.

Berdasarkan pengalamannya, saat menggunakan 4G+ di kampung halamannya, Viki pernah mencatat kecepatan hingga 100 Mbps. Berbeda dengan wilayah Jabodetabek yang pengguna internetnya lebih padat. Viki mengaku belum mencoba jaringan 5G di kampung, namun memperkirakan kecepatannya bisa menembus 150 Mbps.

Sebagai informasi, tingkat penetrasi ponsel 5G saat ini baru mencapai sekitar 30% di jaringan hampir semua operator. Artinya, mayoritas masyarakat masih menggunakan perangkat yang belum mendukung layanan 5G.

Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan jaringan 5G meningkat secara bertahap. Menteri Komdigi Meutya Hafid menyampaikan bahwa pada 2026 cakupan jaringan 5G ditargetkan mencapai 8,5% dari luas permukiman nasional.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default