
Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Militer
Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi bagian penting dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi militer. Para ahli menyatakan bahwa AI memungkinkan proses serangan menjadi jauh lebih cepat, bahkan melampaui kecepatan berpikir manusia. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keputusan penting dalam perang semakin didominasi oleh mesin daripada manusia.
Dalam beberapa laporan, militer Amerika Serikat telah menggunakan model AI bernama Claude untuk membantu merencanakan serangan terhadap Iran. Teknologi ini disebut mampu memperpendek "rantai pembunuhan", yaitu rangkaian proses mulai dari menemukan target, memeriksa aspek hukum, hingga memberikan rekomendasi untuk meluncurkan serangan. Dalam operasi terhadap Iran, hampir 900 serangan dilancarkan hanya dalam 12 jam pertama. Salah satu serangan rudal Israel bahkan dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Para peneliti menggambarkan fenomena ini sebagai "kompresi keputusan". Artinya, waktu yang dibutuhkan untuk merencanakan operasi militer menjadi sangat singkat karena sebagian besar analisis dilakukan oleh sistem AI. Craig Jones, dosen senior geografi politik di Universitas Newcastle dan ahli dalam konsep rantai pembunuhan, menjelaskan bahwa sistem AI dapat memberikan rekomendasi target dengan sangat cepat.
“Dulu, hal ini mungkin membutuhkan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu. Sekarang Anda bisa melakukan semuanya sekaligus,” ujar Jones.
Analisis Informasi Secara Cepat
Teknologi AI mampu menganalisis berbagai sumber informasi secara cepat, seperti rekaman drone, penyadapan komunikasi, dan laporan intelijen manusia. Sistem yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi militer Palantir bersama Pentagon menggunakan pembelajaran mesin untuk menentukan prioritas target serta memilih jenis senjata yang paling efektif. Sistem ini juga dapat mempertimbangkan stok persenjataan dan hasil serangan sebelumnya terhadap target yang serupa. Bahkan, AI digunakan untuk membantu menilai apakah sebuah serangan memiliki dasar hukum.
David Leslie, profesor etika teknologi dari Queen Mary University of London, menilai penggunaan AI dalam militer merupakan langkah besar dalam evolusi strategi perang. Namun, dia mengingatkan adanya risiko pengalihan beban kognitif, yaitu ketika manusia terlalu bergantung pada analisis mesin.
“Ini adalah era berikutnya dari strategi militer dan teknologi militer,” kata Leslie.
Dampak terhadap Warga Sipil
Serangan militer yang sangat cepat juga menimbulkan risiko terhadap warga sipil. Misalnya, media pemerintah Iran melaporkan 165 orang, termasuk banyak anak-anak, tewas akibat serangan rudal yang menghantam sebuah sekolah di Iran selatan. Serangan itu disebut terjadi di dekat barak militer. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter. Militer AS menyatakan masih menyelidiki laporan tersebut.
Belum jelas sejauh mana Iran menggunakan AI dalam sistem militernya. Pada 2025, negara itu mengklaim telah memakai AI untuk membantu sistem penargetan rudal. Namun, kemampuan tersebut diperkirakan masih jauh tertinggal dibandingkan teknologi AI milik Amerika Serikat dan Tiongkok, terutama karena keterbatasan akibat sanksi internasional.
Kerja Sama Teknologi dan Militer
Di sisi lain, kerja sama antara perusahaan teknologi dengan militer terus berkembang. Beberapa waktu lalu, pemerintah AS sempat berencana menghentikan penggunaan AI dari Anthropic karena perusahaan tersebut menolak teknologi mereka dipakai untuk senjata otonom penuh atau pengawasan warga Amerika. Meski begitu, sistem tersebut tetap digunakan sementara sebelum akhirnya dihentikan secara bertahap. Sementara itu, perusahaan AI lain seperti OpenAI segera menandatangani kerja sama dengan Pentagon untuk penggunaan model AI mereka di bidang militer.