Analisis: Perang Timur Tengah Ditentukan oleh Siapa yang Lebih Dulu Kehabisan Rudal atau Pencegat

Bang Hendra
0
Analisis: Perang Timur Tengah Ditentukan oleh Siapa yang Lebih Dulu Kehabisan Rudal atau Pencegat

Dinamika Konflik Timur Tengah: Persaingan Senjata dan Strategi Pertahanan

Konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah memicu perhatian global, terutama karena perbandingan antara stok drone dan rudal Iran dengan persediaan amunisi pertahanan udara yang dimiliki oleh Amerika Serikat (AS), Israel, dan negara-negara Teluk. Para analis dan pejabat menilai bahwa kunci dari konflik ini terletak pada kemampuan masing-masing pihak untuk menghadapi serangan balasan dalam jangka panjang.

Persediaan Senjata yang Terbatas

Persediaan senjata paling canggih buatan AS diketahui terbatas, sementara jumlah gudang senjata Iran masih menjadi tanda tanya besar. Sejak Sabtu lalu, Iran dan kelompok proksinya telah meluncurkan lebih dari 1.000 serangan terhadap target di hampir selusin negara dalam radius hingga 1.200 mil. Dengan angkatan udara yang sudah menua dan tidak mampu menandingi kekuatan Israel maupun AS, Teheran mengandalkan rudal dan drone sebagai senjata utama.

Luasnya jangkauan serangan balasan Iran menjadikan konflik ini yang terluas di Timur Tengah sejak Perang Dunia II. Di sisi lain, pesawat dan rudal Israel serta AS telah menghantam ratusan lokasi di Iran tanpa kehilangan satu pun pesawat akibat tembakan musuh. Kini, AS dan Israel berupaya menghancurkan sebanyak mungkin stok rudal dan infrastruktur militer Iran dengan menargetkan peluncur, gudang penyimpanan, serta personel kunci.

Strategi Militer yang Kompetitif

Stacie Pettyjohn, Direktur Program Pertahanan di Center for a New American Security, Washington, menyebut konflik ini sebagai “kompetisi salvo”, konsep strategi militer yang menggambarkan pertukaran serangan besar secara simultan menggunakan senjata berpemandu presisi. Ia menyoroti bahwa pertanyaannya adalah siapa yang memiliki “gudang amunisi” lebih dalam untuk senjata-senjata kunci. Dan yang paling tidak diketahui adalah seberapa besar persediaan Iran.

Sirene kembali meraung di Yerusalem pada Selasa, disusul beberapa ledakan ketika rudal pencegat menghancurkan proyektil yang masuk. Namun, dalam 36 jam terakhir, serangan Iran ke Israel yang telah menewaskan 11 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya sejak perang dimulai terlihat semakin jarang. Analis menduga Iran mungkin tengah menghemat cadangan rudalnya atau memang sudah kesulitan meluncurkan serangan dalam jumlah besar.

Ancaman terhadap Negara-Negara Teluk

Negara-negara Teluk kini berada di bawah tekanan besar. Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa membantah laporan bahwa mereka kehabisan rudal pencegat, dan menegaskan masih memiliki stok amunisi strategis yang kuat untuk jangka panjang. UEA menyatakan telah menghancurkan 161 dari 174 rudal balistik yang diluncurkan ke wilayahnya. Sisanya jatuh ke laut.

Dari 689 drone Iran, 645 berhasil dicegat, sementara delapan rudal jelajah dihancurkan meski menyebabkan beberapa kerusakan tambahan. Serangan Iran juga menyasar fasilitas militer dan sipil AS di Qatar, Abu Dhabi, Kuwait, Irak, Bahrain, dan Oman. Hotel-hotel internasional di Dubai dilaporkan terbakar akibat serangan. Infrastruktur minyak Arab Saudi mengalami kerusakan, sementara drone menargetkan pangkalan militer Inggris di Siprus.

Qatar menyatakan berhasil mendeteksi sejumlah target udara dan rudal serta mencegat sebagian besar di antaranya. Kementerian pertahanannya mengklaim telah menembak jatuh dua jet tempur Iran, tiga rudal jelajah, 98 dari 101 rudal balistik, serta 24 dari 39 drone.

Biaya dan Keberlanjutan Konflik

Kelly Grieco, analis strategi dan militer di Stimson Center, Washington, mengatakan sulit mengetahui secara pasti tingkat persediaan senjata di kawasan Teluk. “Mereka menghabiskan banyak stok, dan pada akhirnya akan ada keputusan sulit tentang apa yang harus diprioritaskan untuk dilindungi,” ujarnya.

Menurut Grieco, Iran tampaknya sengaja tidak meluncurkan salvo dalam jumlah sangat besar untuk menjaga keberlanjutan kampanye militernya. “Ini seperti ‘kematian oleh seribu luka’ strategi yang lebih cocok bagi pihak yang lebih lemah dalam pertempuran,” katanya.

Pettyjohn menilai, jika stok pertahanan udara benar-benar habis, hal itu bisa memaksa Israel dan AS menghentikan operasi ofensif dan mencari penyelesaian melalui negosiasi. Biaya juga menjadi faktor penting. Grieco memperkirakan biaya mencegat satu drone bisa lima kali lebih mahal dibanding biaya produksinya.

Sementara itu, stok senjata paling canggih buatan AS terbatas dan pengisiannya memerlukan waktu lama. Amunisi tersebut juga dibutuhkan di kawasan lain seperti Ukraina dan Taiwan. Di tengah situasi yang terus berkembang, memahami dinamika konflik Timur Tengah menjadi semakin krusial.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default