Kisah Emosional Denada Tambunan tentang Putranya, Ressa Rizky Rossano
Denada Tambunan, seorang penyanyi sekaligus aktris ternama, secara terbuka berbagi kisah emosional mengenai putranya, Ressa Rizky Rossano. Dalam pengakuan yang penuh air mata, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menelantarkan anaknya. Keputusan yang diambilnya selama ini, menurut Denada, adalah untuk masa depan terbaik bagi Ressa.
Pengakuan ini dilakukan dalam sebuah wawancara yang sangat emosional. Denada menyampaikan ceritanya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, menunjukkan betapa beratnya perjalanan yang ia lalui. Ia menjelaskan bahwa keputusan besar yang ia ambil puluhan tahun lalu bukanlah sesuatu yang ringan. Ada rasa takut, bingung, malu, serta tanggung jawab yang bercampur menjadi satu ketika ia mengetahui dirinya hamil di tengah situasi sosial yang jauh berbeda dibanding sekarang.
Perjuangan di Tengah Tekanan Sosial
Denada mengingat kembali masa-masa awal tahun 2000-an, saat ia harus berhadapan dengan realitas yang tidak mudah diterima, baik oleh dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar. Masyarakat pada masa itu belum se-terbuka seperti sekarang dalam memandang perempuan yang hamil di luar pernikahan. Ia merasa tekanan sosial sangat besar, dan hal tersebut membuatnya merasa sangat sendirian.
Namun, di tengah ketakutan yang menghimpit, Denada merasakan satu hal yang sangat kuat dalam dirinya, yakni naluri sebagai seorang ibu. Ia merasa bahwa anak yang dikandungnya adalah darah dagingnya sendiri, seseorang yang harus ia jaga, lindungi, dan perjuangkan, apa pun risikonya. Denada menegaskan bahwa bagi dirinya, Ressa bukan pernah menjadi beban, bukan pula sesuatu yang ingin ia singkirkan.
Kehadiran Ressa Memberikan Kekuatan
Keputusan untuk melanjutkan kehamilan pun menjadi pilihan besar yang harus ia tanggung sendiri. Denada merasa seperti hanya ada dirinya dan sang bayi yang sedang melawan dunia. Perasaan itulah yang kemudian menumbuhkan ikatan batin begitu kuat antara dirinya dan anak yang belum lahir tersebut.
Namun, perjalanan itu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Denada mengakui bahwa ada masa di mana ia tidak berani jujur kepada ibunya, Emilia Contessa. Rasa takut dan bingung membuatnya memilih menyembunyikan kehamilan itu sampai usia kandungannya cukup besar. Ia bahkan mengaku tidak lagi mengingat pasti di bulan ke berapa akhirnya ia membuka semuanya kepada sang ibu.

Pertanyaan Realistis dari Ibu
Ketika kehamilan itu akhirnya diketahui, Denada harus menghadapi fase lain yang tidak kalah berat. Di satu sisi ia bersikeras ingin mempertahankan anaknya dan merawatnya sendiri. Namun di sisi lain, ia juga mulai dihadapkan pada berbagai pertanyaan realistis dari ibunya mengenai masa depan Ressa. Pertanyaan-pertanyaan itu, menurut Denada, sangat menohok sekaligus membuka matanya.
Emilia Contessa bertanya bagaimana nanti nasib anak itu ketika lahir, bagaimana saat masuk sekolah, bagaimana jika suatu hari Ressa mulai bertanya tentang ayahnya, dan apakah Denada benar-benar siap menghadapi semua kemungkinan sosial yang akan dihadapi anaknya. Denada mengaku saat itu ia belum benar-benar memikirkan sejauh itu. Naluri keibuannya sangat kuat, tetapi ia juga sadar bahwa cinta saja mungkin tidak cukup untuk menjawab seluruh tantangan hidup yang akan datang.
Pilihan Terberat untuk Anak
Dalam situasi itulah, ibunya kemudian menawarkan satu jalan yang sangat berat namun dianggap paling realistis. Emilia mengusulkan agar Ressa dirawat oleh keluarga dekat, yakni Om Dino dan Tante Ratih. Mereka adalah bagian dari keluarga besar yang tinggal di Banyuwangi, tempat sebagian besar keluarga dari pihak ibu berada.
Awalnya, tawaran itu tentu bukan sesuatu yang mudah diterima Denada. Sebagai ibu kandung, ia ingin berada di sisi anaknya, merawatnya sendiri, melihat tumbuh kembangnya setiap hari. Namun seiring waktu, ia mulai mempertimbangkan usulan tersebut dengan hati yang semakin terbuka.
Denada membayangkan bahwa bila Ressa tumbuh bersama Om Dino dan Tante Ratih, sang anak akan memiliki lingkungan keluarga yang lebih utuh. Ia akan melihat sosok ayah dan ibu dalam satu rumah, tumbuh di tengah keluarga besar yang dekat, dan mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari banyak orang.
Keputusan yang Penuh Cinta
Meski berat, Denada akhirnya mengambil keputusan yang menurutnya paling baik untuk anaknya. Ia mengizinkan Ressa diasuh oleh Om Dino dan Tante Ratih. Namun keputusan itu, sekali lagi, bukan berarti ia menyerahkan anaknya lalu pergi begitu saja tanpa kepedulian. Denada menegaskan bahwa sejak awal ia tetap menjadi ibu yang memperhatikan putranya. Walau tidak selalu hadir secara terbuka, ia diam-diam terus memantau perkembangan Ressa melalui ibunya.
Pengakuan ini menjadi penting karena sekaligus membantah anggapan bahwa dirinya menelantarkan anak. Dalam sudut pandang Denada, keputusan tersebut justru diambil dengan penuh luka dan pertimbangan, demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Ressa.