Kultum Milenial: Cinta dan Kemunafikan di Bulan Ramadan

Bang Hendra
0
Kultum Milenial: Cinta dan Kemunafikan di Bulan Ramadan

Ramadan: Bulan yang Menghapus Dosa

Bulan Ramadan sering diibaratkan sebagai api yang membakar karat pada besi, membersihkan dosa-dosa yang menempel selama sebelas bulan. Bulan ini memiliki keistimewaan yang luar biasa, tidak hanya dalam hal ibadah tetapi juga dalam proses pembersihan diri dari segala kesalahan yang pernah dilakukan.

Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa setiap amal bergantung pada niat. Hal ini menjadi dasar penting dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan. Niat yang tulus dan benar akan membawa hasil yang maksimal, baik dalam bentuk pahala maupun pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Para ulama seperti Ibnu Athaillah dan Habib Umar bin Hafidz menekankan bahwa keutamaan Ramadan hanya bisa diraih dengan usaha nyata melalui ibadah. Mereka mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan libur atau momen bersuka cita, tetapi waktu untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas iman, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kultum Milenial Mahasiswa IAIN Gorontalo, Anang Wahyu Mouko, berbicara tentang antara cinta dan kemunafikan di bulan Ramadan. Ia menyampaikan bahwa saat ini kita berada di bulan yang sangat mulia, bulan yang selalu dirindukan oleh para guru dan ulama. Bulan tersebut adalah Ramadan, yang memiliki makna dan keistimewaan tersendiri.

Mengapa bulan ini disebut Ramadan? Kata “Ramadan” berasal dari kata “ramadhan” yang berarti panas atau membakar. Seperti yang dijelaskan oleh salah seorang ulama, yaitu Ustaz Abdul Somad (UAS), jika kita menggali tanah dan menemukan besi yang sudah lama tertanam, maka besi tersebut akan berkarat karena terpapar waktu yang lama.

Untuk membersihkan karat tersebut, besi harus dimasukkan ke dalam api yang panas. Ketika dipanaskan hingga membara, lalu dipukul atau dibenturkan ke tempat yang keras, maka karat yang menempel akan terlepas. Begitu pula dengan diri kita, yang selama sebelas bulan menjalani kehidupan mulai dari Syawal hingga Syaban, banyak dosa yang menempel pada diri kita.

Telinga kita berkarat karena mendengar hal-hal yang tidak baik. Mata kita berkarat karena melihat yang tidak seharusnya. Mulut kita berkarat karena ucapan yang tidak dijaga. Bahkan dari ujung rambut hingga ujung kaki, diri kita bisa dipenuhi dengan dosa. Maka, Allah Subhanahu wa Ta'ala menghadirkan bulan Ramadan sebagai api yang membakar dosa-dosa kita.

Dengan demikian, kita harus bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadan. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri dan menghapus kesalahan yang pernah kita lakukan. Jangan sampai kesempatan ini kita sia-siakan. Mari kita isi bulan Ramadan ini dengan memperbanyak amal saleh, istighfar, shalawat, membaca Al-Qur'an, dan mengingat Allah.

Sering kita mendengar orang mengatakan, “Ramadan tinggal sebentar lagi.” Kalimat ini seakan-akan menunjukkan kerinduan kepada bulan Ramadan. Namun, di balik ucapan tersebut, ada niat yang kurang tepat. Misalnya, di kalangan mahasiswa, beberapa dari mereka mungkin lebih menantikan libur Ramadan daripada keutamaannya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Jika seseorang menyambut Ramadan dengan niat untuk mendapatkan kemuliaan, maka ia akan mendapatkan pahala. Tetapi jika hanya ingin libur atau hal-hal duniawi lainnya, maka itulah yang akan ia dapatkan.

Berbeda dengan orang yang benar-benar mencintai Ramadan. Ia akan mendapatkan pahala ibadahnya, keberkahan waktunya, bahkan tidurnya pun bernilai ibadah. Oleh karena itu, mari kita luruskan niat kita dalam menyambut bulan Ramadan. Jangan sampai di dalam hati kita terselip niat yang tidak baik.

Salah satu cara memuliakan Ramadan adalah dengan mengamalkan perintah Allah dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Di antara amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak istighfar, karena pada bulan ini Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya.

Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam menjelaskan bahwa bagaimana mungkin kita berharap mendapatkan kedekatan dengan Allah sementara kita masih terus mengikuti hawa nafsu. Bagaimana mungkin kita ingin mendapatkan kemuliaan Ramadan, tetapi kita masih meninggalkan amal-amal yang seharusnya dikerjakan.

Al-Habib Umar bin Hafidz juga pernah mengatakan bahwa siapa yang menginginkan sesuatu tetapi tidak berusaha untuk mendapatkannya, maka keinginannya itu hanyalah angan-angan. Jika kita ingin mendapatkan kemuliaan Ramadan, maka kita harus berusaha dengan amal dan ibadah.

Sahabat yang dimuliakan Allah, selagi kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk bertemu Ramadan, jangan sampai kita melewatkannya begitu saja. Karena jika satu Ramadan saja tidak mampu mengubah diri kita menjadi lebih baik, maka butuh berapa Ramadan lagi untuk mengubah diri kita, sementara umur kita tidak ada yang tahu.

Bahkan seandainya orang-orang yang sudah berada di alam kubur diberi kesempatan untuk meminta kepada Allah, maka mereka akan meminta dikembalikan ke dunia agar bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadan. Karena mereka tahu betapa besar keutamaan bulan ini.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk memperbanyak amal kebaikan, memperbanyak ibadah, dan menjadikan Ramadan kali ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kita. Dan semoga kita semua dikumpulkan bersama orang-orang saleh dan bersama Baginda Rasulullah di surga Allah.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default