
Mojtaba Khamenei, putra dari mantan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, telah diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam yang baru. Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Pakar, lembaga ulama tertinggi Iran, dalam sebuah pernyataan yang dirilis tidak lama setelah tengah malam pada hari Senin (9/3) di Iran.
Beberapa kandidat lain yang berpotensi mengisi posisi tersebut antara lain Alireza Arafi, salah satu dari tiga anggota dewan sementara yang menjalankan pemerintahan negara, Mohsen Araki, serta Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam pada tahun 1979. Namun akhirnya, Majelis Pakar memilih Mojtaba Khamenei yang saat ini berusia 56 tahun. Siapakah Mojtaba Khamenei?

Mojtaba lahir pada 8 September 1969, di kota Mashhad di bagian timur Iran. Ia adalah salah satu dari enam anak dari mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada usia 86 tahun lebih dari seminggu yang lalu di Teheran, tepat saat gelombang pertama serangan udara AS-Israel memicu ketegangan di Timur Tengah.
Selama bertahun-tahun, pengaruh sebenarnya Mojtaba Khamenei menjadi subjek spekulasi yang intens baik di kalangan masyarakat Iran maupun para diplomat asing. Meskipun tidak memiliki jabatan resmi, ia adalah satu-satunya anak dari mantan pemimpin tertinggi yang memegang posisi publik.
Dengan penampilan yang tertutup dalam upacara resmi dan di media, Mojtaba Khamenei digambarkan sebagai sosok yang bekerja di balik layar untuk mengendalikan pusat kekuasaan di Iran. Ia memiliki ciri khas seperti janggut beruban dan sorban hitam khas "seyyed", yang menunjukkan bahwa ia berasal dari keturunan Nabi Muhammad.
Hubungan Mojtaba dengan kaum konservatif dianggap kuat, terutama karena keterlibatannya dengan Garda Revolusi, sayap ideologis militer dari Republik Islam. Hubungan ini dimulai saat ia menghabiskan masa baktinya di unit tempur pada akhir Perang Irak-Iran yang berlangsung dari tahun 1980 hingga 1988.
Kehadiran Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru membawa banyak pertanyaan tentang peran dan kebijakan yang akan diambilnya dalam pemerintahan Iran. Sebagai putra dari tokoh besar, ia diharapkan bisa mempertahankan stabilitas dan kekuasaan yang telah dibangun selama pemerintahan ayahnya. Namun, tantangan yang dihadapi sangat besar, terutama dalam konteks situasi geopolitik yang semakin kompleks.
Dengan latar belakang keluarga yang kuat dan pengaruh yang telah terbentuk selama beberapa tahun, Mojtaba Khamenei tampaknya siap untuk mengambil alih peran penting dalam sistem pemerintahan Iran. Bagaimana ia akan menghadapi tantangan di masa depan, tetap menjadi topik yang menarik untuk diamati.