Ramadhan Membentuk Lisan dan Perilaku

Bang Hendra
0
Ramadhan Membentuk Lisan dan Perilaku

Ramadhan: Bulan Latihan Menjaga Lisan dan Perilaku

Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia. Setiap tahun, bulan ini hadir dengan berbagai amalan yang harus dijaga, baik itu dalam hal lisan maupun perilaku. Namun, anehnya, banyak Muslim yang sudah bertahun-tahun berpuasa tetapi masih belum mampu menjaga ucapan dan perbuatan mereka secara baik. Mengapa hal ini terjadi? Tulisan berikut ini akan mencoba mengulas lebih dalam mengenai pentingnya menjaga lisan dan perilaku di bulan Ramadhan.

Benarkah Ramadhan Bulan Latihan Menjaga Lisan?

Lisan adalah alat komunikasi utama manusia. Karena manusia adalah makhluk yang berbicara, maka diberikan pilihan untuk diam atau berbicara. Namun, sering kali umat Islam lupa dengan pepatah “mulutmu adalah harimaumu”, yang mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyakiti orang lain. Jika hati sudah tertusuk, kebaikan bisa berubah menjadi buruk.

Di era modern, banyak umat Islam yang berbicara tanpa kontrol, bahkan menyebar hoaks di media sosial. Mereka seolah-olah merasa tidak ada malaikat yang mengawasi mereka di bulan Ramadhan. Padahal, berbohong atau menyebarkan hoaks sangat dilarang keras dalam bulan Ramadhan karena dapat meruntuhkan nilai puasa.

Bahkan jika seseorang memaki dan mencela kita, kita diperintahkan untuk mengucapkan “Sesungguhnya saya sedang berpuasa” (H.R. Muslim). Kata-kata ini sangat indah dan bisa membuat lawan bicara tersadarkan.

Akibat negatif dari tidak menjaga lisan adalah bahwa “…tidak ada hajat bagi Allah untuk menilai puasanya, meskipun ia tidak makan dan minum di siang hari,” (HR. Bukhari). Artinya, Tuhan sangat marah kepada orang yang tidak mampu merawat lisan secara baik di bulan Ramadhan. Sebab, “Salamatul insan fi hifdhil lisan” artinya keselamatan manusia bergantung pada lisannya (HR. Bukhari).

Tidak hanya berbohong, membicarakan aib orang lain, adu domba, melihat dengan syahwat, atau bersumpah palsu juga dapat membatalkan pahala puasa (HR. Ad-Darimi). Meskipun menurut Imam Nawawi, puasa tersebut tidak batal, tetapi pahalanya tetap terganggu.

Pentingnya Menjaga Perilaku di Bulan Ramadhan

Perilaku adalah serangkaian tindakan atau aktivitas manusia yang sangat luas. Di bulan Ramadhan, kita harus berhati-hati dalam bertindak agar puasa kita tetap selamat. Tindakan harus dikendalikan, seperti meningkatkan empati sosial dengan berbagi sedekah, membantu sesama, menjaga hubungan baik dengan keluarga, tetangga, dan teman di ruang publik maupun privat.

Selain itu, kita juga diminta untuk meningkatkan ibadah, seperti memperhatikan shalat wajib tepat waktu, memperbanyak shalat sunnah sebelum dan sesudah fardhu, tarawih, witir, dhuha, serta shalat tahajjud. Selain itu, membaca Al-Quran, berzikir, dan berselawat kepada Rasulullah juga sangat dianjurkan.

Semua amalan ini berdampak pada tazkiyatul qalbun (pembersihan hati). Jika hati sudah bersih, lisan akan fasih. Dengan begitu, ampunan Tuhan akan diperoleh, dan amal kita pasti shaleh.

Ramadhan sebagai "The Striking Force"

Ramadhan disebut sebagai “The Striking Force” atau daya dobrak yang membuat lisan dan perilaku terjaga. Menjaga lisan adalah upaya meningkatkan diri yang tuntas di bulan Ramadhan. Puasa bukan hanya sekadar “pindah jam makan”, tetapi merupakan latihan integritas yang paling murni. Hanya individu dan Tuhan yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak.

Puasa juga merupakan ibadah yang paling antisantun. Dengan berpuasa, kita belajar untuk menjadi pribadi yang santun dan bijaksana. Melalui Ramadhan, kita diajarkan untuk menjaga lisan dan perilaku, sehingga dapat menjadi manusia yang lebih baik.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default