
Pemimpin Eropa Mengutuk Tindakan Polisi Israel yang Mencegah Patriark Latin Yerusalem
Beberapa pemimpin Eropa dengan penduduk mayoritas Katolik mengecam tindakan polisi Israel yang mencegah Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, memasuki Gereja Makam Suci untuk merayakan Misa Minggu Palma. Kardinal Pizzaballa adalah uskup agung dengan yurisdiksi Katolik di seluruh Israel dan wilayah Palestina.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengeluarkan pernyataan pada Ahad yang menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Ia menegaskan bahwa tindakan ini tidak hanya melanggar hak umat beriman, tetapi juga setiap komunitas yang mengakui kebebasan beragama.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menggambarkan tindakan tersebut sebagai "tidak dapat diterima" dan meminta Kementerian Luar Negeri untuk memanggil duta besar Israel untuk meminta klarifikasi. Ia menekankan pentingnya menjaga kebebasan beribadah di Yerusalem.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyampaikan kekecewaannya terhadap keputusan polisi Israel. Ia menulis di platform media sosial X bahwa tindakan tersebut merupakan bagian dari peningkatan pelanggaran terhadap status Tempat Suci Yerusalem. Macron menyerukan agar kebebasan beribadah di Yerusalem dijamin bagi semua agama.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengecam serangan yang tidak beralasan terhadap kebebasan beragama. Ia menuntut Israel untuk menghormati keberagaman keyakinan dan hukum internasional. Ia menekankan bahwa tanpa toleransi, hidup berdampingan tidak mungkin tercapai.
Kementerian Luar Negeri Portugal menyatakan bahwa keputusan otoritas Israel pantas mendapat kecaman keras. Mereka mendesak Israel untuk menjamin dan menjunjung tinggi kebebasan beragama dan beribadah.
Presiden Polandia Karol Nawrocki menyatakan sangat menentang tindakan tersebut dan memberikan dukungan kepada Kardinal Pizzaballa. Ia menilai tindakan polisi Israel sebagai ekspresi merendahkan terhadap tradisi dan budaya Kristen.
Menteri Luar Negeri Malta Ian Borg juga menyatakan keprihatinan mendalam atas keputusan polisi Israel. Ia menegaskan bahwa akses ke tempat paling suci umat Kristen, terutama untuk liturgi Pekan Suci pribadi, harus dihormati. Ia mendesak otoritas Israel untuk mempertimbangkan kembali dan memfasilitasi ibadah.
Dalam sebuah pernyataan, Patriarkat Latin Yerusalem mengatakan bahwa Pizzaballa bersama dengan penjaga Tanah Suci, Pastor Francesco Ielpo, dihentikan saat hendak pergi ke gereja secara pribadi dan "dipaksa untuk berbalik." Insiden ini menandai pertama kalinya dalam beberapa abad para pemimpin gereja dicegah untuk merayakan Minggu Palma di Makam Suci, salah satu situs Kristen tersuci.
Patriarkat Latin sebelumnya telah mengumumkan pembatalan prosesi Minggu Palma tradisional yang biasanya berlangsung dari Bukit Zaitun menuju Yerusalem dan menarik ribuan umat setiap tahunnya.
Hingga Jumat lalu, otoritas Israel juga terus melarang umat Muslim untuk melaksanakan salat Idul Fitri dan salat Jumat di Masjid Al Aqsa Yerusalem, masjid tersuci ketiga dalam Islam, selama lima minggu berturut-turut. Tempat tersebut ditutup sejak akhir Februari di bawah tindakan darurat yang terkait dengan perang dengan Iran.