Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?

Bang Hendra
0


Di Lebanon Selatan, tiga anggota pasukan perdamaian PBB asal Indonesia gugur dalam insiden yang terjadi hanya beberapa jam. Ketiga korban tersebut merupakan tentara dari TNI yang sedang menjalani tugas di bawah naungan UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon).

Pada hari Senin, UNIFIL melaporkan bahwa ledakan tak diketahui sumbernya menghancurkan kendaraan di dekat kota Bani Haiyyan. Dua penjaga perdamaian Indonesia tewas dalam peristiwa ini, sementara dua lainnya luka-luka. Beberapa jam sebelumnya, satu penjaga perdamaian Indonesia juga gugur setelah pangkalan UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr diserang proyektil.

Menurut informasi yang diperoleh, korban pertama adalah Praka Farizal Rhomadhon. Dalam serangan kedua, dua prajurit TNI Satuan Tugas Batalyon Mekanis (Satgas Yonmek) XXIII-S/Unifil gugur. Kedua korban tersebut adalah Mayor Inf ZA dan Sertu I. Saat itu, mereka sedang berusaha mengevakuasi rekan mereka yang terluka, namun konvoi mereka diserang oleh militer Israel.

UNIFIL saat ini sedang melakukan penyelidikan atas kedua kejadian tersebut, tetapi belum menemukan pihak yang bertanggung jawab. PBB menyatakan bahwa setiap serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional dan Resolusi Dewan Keamanan 1701 tahun 2006.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan pernyataan di X (dahulu Twitter), menyerukan akuntabilitas atas serangan-serangan tersebut. Menurutnya, insiden-insiden ini membahayakan keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengonfirmasi bahwa para korban adalah warga negara Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa kehilangan apapun terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak dapat diterima. Ia juga menyampaikan kecaman terhadap "serangan Israel di Lebanon selatan."

Saat ini, lebih dari 8.200 pasukan penjaga perdamaian PBB dari 47 negara ditempatkan di Lebanon Selatan, menurut data UNIFIL yang diperbarui pada 23 Maret.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, memberikan komentarnya mengenai insiden serangan yang menewaskan prajurit TNI di Lebanon. Ia menilai pemerintah perlu meninjau kembali efektivitas misi perdamaian tersebut di tengah pertempuran yang terus berlangsung.

"Insiden ini menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi atau melihat apakah keberadaan prajurit kita benar-benar berfungsi atau tidak," ujar Dave. Ia mempertanyakan apakah posisi pasukan TNI saat ini masih sebagai penjaga perdamaian atau justru terjebak dalam konflik.

Dave menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan opsi penarikan personel jika kondisi keamanan di Lebanon Selatan dinilai tidak aman. Ia merujuk pada langkah yang dilakukan negara-negara lain seperti Italia yang siap menarik personelnya dari sana.

Menurut Dave, misi utama TNI dalam UNIFIL adalah menjaga perdamaian. Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah berubah menjadi zona perang aktif, yang menyulitkan pelaksanaan misi.

Komisi I menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pemerintah. Dave menegaskan pentingnya investigasi mendalam untuk mengetahui penyebab jatuhnya korban jiwa dari pihak Indonesia.

"Harus ada investigasi mendalam karena ini berkaitan dengan keadilan kepada keluarga prajurit. Ini serangannya itu dari mana, siapa yang menyerang, titiknya itu mau nyerang ke mana hingga akhirnya ada korban kita," tambahnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default