
Presiden Timor Leste, José Ramos Horta, menyampaikan harapan besar terhadap peran ASEAN dalam menjaga perdamaian kawasan. Ia menilai organisasi regional ini harus menjadi kekuatan yang mampu menjaga stabilitas dan kemakmuran bersama, terutama dalam membantu penyelesaian konflik di Myanmar. Sebagai anggota termuda ASEAN, Timor Leste berharap organisasi tersebut bisa lebih aktif dalam mengatasi isu-isu yang berkaitan dengan agama, etnis, dan budaya.
Timor Leste resmi menjadi anggota ke-11 ASEAN pada 26 Oktober 2025 lalu. Dalam sebuah diskusi, Ramos menyampaikan bahwa banyak tokoh perdamaian yang lebih memahami dinamika ASEAN. Salah satu yang disebutnya adalah Jusuf Kalla. Ia menegaskan bahwa jika solusi untuk perdamaian di Myanmar belum ditemukan, ia siap menjelaskan tentang "surga" atau kedamaian.
Ramos mengatakan bahwa ia tidak sepenuhnya memahami konsep meraih surga dalam konteks agama-agama seperti Islam, Buddha, maupun Hindu. Namun, bagi seorang Katolik yang taat, ia menilai jalan menuju surga cukup mudah. "Cukup berdoa setiap hari. Jika melakukan dosa, pergi ke imam untuk meminta pengampunan," ujarnya, yang disambut antusias oleh peserta diskusi.
Dalam sesi tersebut, Ramos juga melontarkan beberapa candaan. Misalnya, ia menyebutkan bahwa jumlah agama di ASEAN begitu banyak hingga membuat sulit menciptakan surga atau kedamaian di bumi. "Tapi saya hanya bercanda," katanya sambil tersenyum.
Ia menekankan bahwa mewujudkan perdamaian di ASEAN bukanlah hal mudah. Meskipun hanya terdiri dari sebelas negara, masyarakat ASEAN memiliki latar belakang yang sangat beragam, baik dalam hal agama, etnis, maupun budaya. Oleh karena itu, perlu upaya yang hati-hati dalam menangani konflik yang berkaitan dengan aspek-aspek tersebut.
Namun, Ramos juga melihat bahwa keragaman ini bisa menjadi kekuatan. Ia bahkan berharap ASEAN bisa sekuat Uni Eropa. Organisasi ini harus mampu mewujudkan perdamaian dunia, meski masih ada ketegangan atau peperangan di sejumlah negara.
Ramos menolak konsep blokade atau embargo ekonomi sebagai bentuk sanksi. Menurutnya, tindakan seperti ini seperti "menepuk kuda yang sedang sekarat". Ia lebih mendukung sanksi diplomatik, seperti tidak mengundang suatu negara dalam forum KTT.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut, Ramos juga menyentuh soal ekonomi. Ia menekankan bahwa ASEAN harus mampu mewujudkan perdagangan yang adil bagi semua anggotanya. Selain itu, pemerintah anggota ASEAN juga harus menjaga pemerataan pembangunan ekonomi agar semua negara bisa menuju kemakmuran bersama.