Kabar Duka dari Dunia Musik dan Aktivisme Indonesia
Kabar duka datang dari dunia aktivisme dan musik perjuangan Indonesia. John Tobing, pencipta lagu legendaris “Darah Juang” yang menjadi himne Gerakan Reformasi 1998, meninggal dunia di Rumah Sakit Akademik UGM pada Rabu malam. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam, terutama bagi kalangan aktivis mahasiswa dan masyarakat yang menghargai karyanya.
Sejarah Kehidupan John Tobing
John Tobing lahir pada 1 Desember 1965 di Binjai, Sumatera Utara. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Hakim Mangara Lumbantobing dan Adelina Sinaga. Sebagai alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada angkatan 1986, John dikenal aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa sejak akhir 1980-an. Di kampus, ia ikut mendirikan Biro Pembelaan Hak Mahasiswa Filsafat (BPHMF) sebagai alternatif organisasi senat mahasiswa.
Lagu “Darah Juang” sebagai Simbol Perjuangan
Nama John semakin dikenal luas setelah menciptakan lagu “Darah Juang”, yang kemudian menjadi himne tidak resmi Gerakan Reformasi 1998. Lagu tersebut kerap menggema dalam berbagai aksi demonstrasi mahasiswa di seluruh Indonesia. Lagu ini lahir dari kegelisahan melihat situasi sosial-politik saat itu, dengan melodi yang berasal dari petikan gitar akustik John di tengah kontrakan di kawasan Pelem Kecut, Gejayan, Yogyakarta.
- Proses penulisan lirik dilakukan bersama rekan-rekannya seperti Dadang Juliantara, Web Warouw, dan Andi Munajat.
- Liriknya juga sempat direvisi bersama aktivis lain, termasuk Budiman Sudjatmiko.
- Lagu tersebut menggambarkan ironi negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi rakyatnya masih jauh dari keadilan dan kesejahteraan.
Kiprah dalam Berbagai Gerakan
Selain aktif dalam gerakan mahasiswa, John juga terlibat dalam solidaritas untuk korban Waduk Kedung Ombo (1989–1991), peristiwa Kusumanegara Berdarah, hingga Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) di mana ia pernah menjabat sebagai wakil ketua.
Bagi banyak aktivis, John Tobing bukan sekadar pencipta lagu, melainkan simbol keteguhan dan keberanian menyuarakan kebenaran. Kini, sang pencipta telah berpulang. Namun nada dan lirik “Darah Juang” diyakini akan terus hidup, dinyanyikan lintas generasi sebagai pengingat bahwa semangat perjuangan tak pernah benar-benar mati.
Duka dari Kalangan Aktivis
Salah satu aktivis Yogyakarta, Baharuddin Kamba, membenarkan kabar tersebut dan mengaku langsung menuju rumah sakit setelah menerima informasi duka. “Sesama aktivis kita berduka dengan meninggalnya Bang John. Secara fisik dia meninggal, tetapi karyanya dan semangatnya untuk teman-teman aktivis tidak pernah padam,” ujarnya.
John Tobing, yang dikenal sebagai maestro lagu perjuangan, meninggal dunia di Rumah Sakit Akademik UGM.
Lagu “Darah Juang” menjadi himne Gerakan Reformasi 1998 dan selalu dinyanyikan dalam aksi demonstrasi.
John Tobing dikenal aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa sejak akhir 1980-an.