Perdagangan di Pasar Jatinegara Menunjukkan Kondisi yang Tidak Membahagiakan

Di tengah memasuki bulan suci Ramadhan 2026, kondisi perdagangan di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, masih terlihat sepi. Pedagang mengeluhkan bahwa aktivitas jual beli belum menunjukkan peningkatan signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pedagang yang biasanya mulai ramai beberapa minggu sebelum puasa.
Endah (65), salah satu pedagang cabai dan bawang, menyampaikan bahwa pasar tidak lagi seramai dulu. Ia menjelaskan bahwa biasanya masyarakat mulai mencari stok bahan makanan sekitar tiga hingga dua minggu sebelum Ramadhan. Namun, saat ini suasana pasar terasa lebih tenang dan kurang dinamis.
"Sejak beberapa pekan lalu, pasar masih sepi. Tidak ada keramaian seperti biasanya," ujarnya dengan nada kecewa. Endah juga menilai bahwa kondisi pasar saat ini cenderung lesu, dengan sedikitnya pembeli yang datang untuk berbelanja.
Ahmad (47), pedagang lainnya, juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengatakan bahwa seiring berkembangnya perdagangan daring, banyak masyarakat kini lebih memilih berbelanja secara online daripada datang langsung ke pasar tradisional. Menurutnya, hal ini memengaruhi jumlah pembeli di pasar.
"Apalagi setelah maraknya pedagang daring, orang lebih memilih belanja dari rumah. Itu membuat pasar semakin sepi," kata Ahmad. Ia juga menyebutkan bahwa harga bahan pokok di platform online sering kali lebih murah dibandingkan di pasar tradisional. Namun, ia tetap merasa bahwa kualitas barang yang dibeli secara daring belum sepenuhnya memenuhi harapan.
"Meskipun harganya lebih murah, kualitas barang bisa saja tidak sesuai. Belanja online memang praktis, tapi kadang tidak bisa memastikan kondisi barang sebelum membeli," tambahnya.
Ahmad menekankan bahwa berbelanja langsung di pasar memiliki keuntungan tersendiri, yaitu dapat memilih barang sendiri dan memastikan kualitasnya sebelum melakukan pembelian. "Lebih baik beli di pasar, karena bisa melihat langsung kualitas cabai, sayuran, atau bahan pangan lainnya," katanya.
Meski situasi pasar sepi, Ahmad tetap memastikan bahwa stok cabai dan bahan pangan lainnya aman. Ia mengaku tidak kesulitan dalam mendapatkan pasokan barang dari Pasar Induk. "Alhamdulillah, stok cukup lancar dan aman," ujarnya.
Selain itu, dia berharap agar aktivitas belanja masyarakat meningkat menjelang Ramadhan. Dengan peningkatan pembeli, para pedagang berharap roda perekonomian kembali bergerak dan pendapatan mereka ikut meningkat. Ahmad juga berharap pemerintah dan pihak terkait terus mendukung keberlangsungan pasar tradisional di tengah pesatnya perkembangan perdagangan digital.
Perubahan Harga Cabai dan Bawang di Pasar Jatinegara
Harga cabai di Pasar Jatinegara mulai menunjukkan kenaikan, terutama untuk jenis cabai rawit. Pada akhir 2025, harga cabai rawit masih sekitar Rp35 ribu-Rp40 ribu per kilogram (kg). Namun, dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai rawit naik mencapai Rp70 ribu per kg.
Sementara itu, harga cabai keriting dan cabai merah besar terpantau relatif lebih rendah. Saat ini, kedua jenis cabai tersebut dijual dengan harga Rp35 ribu per kg. Harga tersebut turun dibandingkan tahun lalu yang sempat berada pada kisaran Rp50 ribu-60 ribu per kg.
Selain itu, harga bawang juga terpantau stabil menjelang Ramadhan. Bawang putih dijual seharga Rp40 ribu per kg, sedangkan bawang merah berada di angka Rp50 ribu per kg.
Persiapan Stok Pangan oleh Pemerintah DKI Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memastikan bahwa stok pangan di Jakarta aman menjelang perayaan Imlek dan Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. Ia mengaku terus menjalin komunikasi dengan kepala daerah penghasil pangan di sejumlah wilayah yang selama ini menyuplai pangan ke ibu kota.
"Saya selalu berkomunikasi dengan kepala daerah penghasil pangan di seluruh Indonesia, yang mereka menyuplai ke Jakarta untuk urusan pangan. Mudah-mudahan, menyambut Imlek, puasa, dan Lebaran, persoalan pangan di Jakarta tidak menjadi persoalan, termasuk daging," ujarnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mempersiapkan stok pangan untuk hari besar keagamaan Imlek hingga Idul Fitri mendatang. Dengan persiapan ini, diharapkan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan tanpa menghadapi kelangkaan atau kenaikan harga yang signifikan.