
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa negaranya siap menghadapi perang jangka panjang. Pernyataan ini ditujukan langsung kepada Amerika Serikat (AS).
"Iran, tidak seperti Amerika Serikat, telah mempersiapkan diri untuk perang jangka panjang," tulis Larijani melalui akun X pribadinya, Senin (2/3/2026).
Dia menekankan bahwa Iran tidak memulai perang yang saat ini sedang berlangsung. Oleh karena itu, Iran bersiap untuk membela diri dengan sengit, terlepas dari konsekuensinya.
"(Iran) akan membuat musuh-musuhnya menyesal atas miskalkulasi mereka," ujar Larijani.
Pernyataan Larijani muncul di tengah situasi di mana Iran masih melakukan serangan balasan terhadap AS dan Israel. Pada Sabtu (28/2/2026) pekan lalu, AS dan Israel diketahui melancarkan serangan udara gabungan ke sejumlah wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut turut mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Setelah serangan tersebut, Iran merespons dengan melancarkan serangan balasan. Mereka menargetkan fasilitas dan pangkalan militer AS yang berada di beberapa negara Teluk Arab. Iran juga menembakkan rudal ke wilayah Israel, termasuk ibu kota Tel Aviv.
Militer AS telah mengumumkan bahwa empat tentaranya tewas dalam serangan Iran.
"Pada pukul 7:30 pagi ET (1130 GMT), 2 Maret, empat anggota militer AS telah tewas dalam pertempuran," kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan lewat akun X-nya.
Sebelumnya dilaporkan bahwa hanya tiga tentara AS yang tewas akibat serangan Iran.
"Anggota militer keempat, yang terluka parah selama serangan awal Iran, akhirnya meninggal akibat luka-lukanya," ungkap CENTCOM.
"Operasi tempur besar terus berlanjut dan upaya respons kami sedang berlangsung," tambah CENTCOM dalam pernyataannya.
Mengenai gugurnya Ayatollah Ali Khamenei, Pemerintah Iran telah mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan tujuh hari libur nasional. Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengumumkan bahwa dewan kepemimpinan akan mengambil alih tugas pemimpin tertinggi hingga pengganti almarhum Ayatollah Ali Khamenei terpilih.
Perkembangan Terkini
Serangan Balasan Iran
Serangan balasan Iran terhadap AS dan Israel terus berlangsung. Wilayah-wilayah penting di Teluk Arab menjadi target utama. Fasilitas militer AS diserang secara intensif, sementara wilayah Israel juga mendapat ancaman dari rudal Iran.
* Dalam serangan tersebut, banyak infrastruktur militer AS mengalami kerusakan.
* Beberapa pangkalan militer di wilayah Teluk Arab dilaporkan mengalami kerusakan berat.
* Israel mengaku mengalami serangan rudal dari arah Iran, meskipun belum ada laporan resmi tentang korban jiwa.
Respons Militer AS
Komando Pusat AS (CENTCOM) terus memberikan update terkait situasi terkini.
* EMPAT anggota militer AS tewas dalam pertempuran, sesuai dengan pernyataan terbaru.
* Anggota militer keempat meninggal setelah mengalami cedera parah dalam serangan awal.
* CENTCOM menyatakan bahwa operasi tempur masih berlangsung dan upaya respons sedang dilakukan.
Situasi Politik di Iran
Kematian Ayatollah Ali Khamenei menciptakan ketidakstabilan politik di Iran.
* Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari.
* Tujuh hari libur nasional juga diumumkan sebagai bentuk penghormatan.
* Dewan kepemimpinan akan mengambil alih tugas hingga pengganti almarhum dipilih.
Peran Ali Larijani
Ali Larijani, sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, memberikan pernyataan yang kuat terkait kemampuan Iran dalam menghadapi konflik.
* Ia menegaskan bahwa Iran siap bertahan dalam perang jangka panjang.
* Pernyataannya juga menunjukkan sikap keras terhadap AS dan Israel.
* Larijani menekankan bahwa Iran tidak memulai konflik, tetapi siap membela diri.
Dalam situasi yang semakin memanas, dunia internasional mulai memperhatikan perkembangan konflik antara Iran, AS, dan Israel.
* Banyak negara-negara lain mulai memberikan pernyataan resmi terkait situasi ini.
* PBB dan organisasi internasional lainnya mengkhawatirkan eskalasi konflik.
* Kecemasan terhadap dampak global dari konflik ini mulai meningkat.
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa konflik ini bisa berdampak luas, baik secara regional maupun global. Kita harus terus memantau situasi ini agar dapat memahami implikasi yang mungkin terjadi.