Perang Amerika-Israel: Ambisi Trump di Selat Hormuz dan Ancaman Kuba, Iran Serang Dubai

Bang Hendra
0
Perang Amerika-Israel: Ambisi Trump di Selat Hormuz dan Ancaman Kuba, Iran Serang Dubai

Serangan Drone dan Rudal di Dubai serta Kuwait

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa sebuah hotel di Dubai dihantam oleh pesawat tak berawak kamikaze dalam serangan yang menargetkan kehadiran AS di wilayah tersebut. Pernyataan ini disampaikan melalui Kantor Berita Tesnim yang semi-resmi, yang merujuk pada gelombang ke-84 operasi “True Promise-4”. Dalam laporan tersebut, enam kapal pendaratan AS (tipe LCU) di Pelabuhan Shuwaikh di Kuwait juga menjadi sasaran serangan. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa tiga kapal tenggelam dan tiga lainnya mengalami kerusakan parah. Mereka mengklaim bahwa rudal Qadir 380 dengan jangkauan 1.000 kilometer (621 mil) digunakan dalam operasi tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa pasukan AS di negara-negara Teluk telah meninggalkan pangkalan mereka dan berlindung di hotel-hotel. Ia mendesak hotel-hotel untuk tidak menampung para tentara tersebut. Iran telah membalas serangan AS dan Israel terhadap wilayahnya dengan gelombang serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Presiden Trump Memperpanjang Tenggat Waktu bagi Iran

Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Teheran untuk menerima persyaratannya hingga 6 April, "atas permintaan pemerintah Iran," seperti yang diumumkannya di media sosial. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Iran sangat ingin bernegosiasi. "Mereka memohon untuk membuat kesepakatan. Mereka sudah benar-benar menyerah," katanya. Trump juga menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran "dua minggu lebih cepat" dari jadwal, menuntut pembukaan kembali Selat Hormuz, dan mengkritik keras sekutu NATO Eropa karena menolak untuk bergabung dalam kampanye tersebut.

Trump menyebut Prancis, Jerman, dan Inggris sebagai negara-negara yang dimintanya untuk membantu membentuk koalisi guna membuka kembali Selat Hormuz, dan yang menurutnya malah memberikan alasan. “Mereka mengatakan kepada saya: 'Ini bukan perang kita.' Nah, Ukraina bukan perang kita, tetapi kita membantu mereka,” katanya, yang terdengar seperti peringatan langsung tentang komitmen Washington di masa depan terhadap pertahanan Eropa.

Ancaman terhadap Kuba dan Kritik terhadap Sekutu Eropa

Dalam momen yang langsung menarik perhatian, Trump memperingatkan: “Kuba selanjutnya, omong-omong.” Kemudian dia meminta media untuk mengabaikan pernyataan itu, hanya untuk mengulanginya. Ancaman ini menambah ancaman operasi militer yang menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro awal tahun ini, yang juga digambarkan Trump selama pidatonya.

Trump berbicara di forum yang sama tempat Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez berpartisipasi melalui konferensi video dua hari sebelumnya, merayu investor dengan janji kepastian hukum. Presiden AS memilih untuk menghadiri acara ini daripada bergabung dengan pemimpin oposisi María Corina Machado, yang hadir minggu ini di konferensi energi CERAWeek di Texas.

Pabrik Baja Iran Dibom

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan akan melancarkan aksi balasan dengan prinsip "mata ganti mata" setelah fasilitas sipil dan infrastruktur vital mereka dihantam serangan udara Amerika Serikat dan Israel. Peringatan keras ini muncul menyusul serangan udara pada Jumat lalu yang menargetkan pusat-pusat industri strategis Iran. Dua produsen baja terbesar, Mobarakeh Steel Company di Isfahan dan Khouzestan Steel Company, mengalami kerusakan serius. Koalisi AS-Israel juga dilaporkan menyerang pembangkit listrik nuklir sipil di wilayah Yazd dan Arak.

Komandan Angkatan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan bahwa serangan musuh telah melampaui batas merah. Sebagai bentuk balasan, IRGC kini membidik pabrik-pabrik dan perusahaan di seluruh kawasan Timur Tengah yang memiliki keterkaitan modal atau afiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel. "Kali ini, persamaannya bukan lagi mata balas mata. Tunggu saja!" tegas Mousavi dalam pesan singkatnya, dikutip Press TV, Sabtu (28/3/2026) waktu setempat.

Eskalasi Konflik dan Respons Iran

Di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tampak ingin segera mengakhiri perang yang tidak populer ini, eskalasi justru terus meningkat. Sejumlah media Iran melaporkan bahwa aliansi AS-Israel kembali melancarkan serangan terbaru yang kini menyasar reaktor riset nuklir air berat dan pabrik pengolahan yellowcake atau uranium pekat pada Jumat malam.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras serangan tersebut melalui media sosial dan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap tenggat diplomasi yang ditawarkan Amerika Serikat. Araqchi menegaskan bahwa serangan tersebut bertentangan dengan perpanjangan tenggat waktu diplomasi oleh POTUS atau Presiden Amerika Serikat, dan Iran akan menuntut harga yang mahal atas kejahatan Israel.

Pihak Teheran saat ini dilaporkan sedang mempertimbangkan lima belas poin proposal perdamaian yang dikirimkan Amerika Serikat melalui Pakistan dua hari lalu. Proposal tersebut dikabarkan mencakup tuntutan yang sangat berat, mulai dari pembongkaran program nuklir dan rudal Iran hingga penyerahan kendali atas rute perdagangan energi paling penting di dunia. Namun, seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa melakukan serangan berkelanjutan di saat Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan diplomasi adalah hal yang tidak dapat ditoleransi.

Sementara itu, konflik ini juga telah merembet ke Lebanon, di mana serangan balasan Israel terhadap kelompok Hizbullah telah menyebabkan seperlima penduduk Lebanon terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default