
Kegagalan Perundingan AS dan Iran di Pakistan
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengonfirmasi bahwa perundingan selama 21 jam dengan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Meski demikian, Vance menyatakan bahwa pihaknya meninggalkan "tawaran terakhir dan terbaik" untuk dipertimbangkan oleh Teheran.
Menurut Vance, akar utama dari kebuntuan negosiasi adalah masalah fasilitas nuklir milik Iran. AS menuntut komitmen jangka panjang agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran membantah upaya mereka untuk memproduksi bom atom.
Vance menjelaskan bahwa fokus utama dari pembicaraan adalah komitmen Iran untuk tidak mencari senjata nuklir atau alat yang memungkinkan mereka mencapai senjata nuklir dalam waktu singkat. Ia menegaskan bahwa langkah Iran untuk menghentikan pengembangan nuklir menjadi kunci dari negosiasi antara kedua negara.
"Kami belum melihat komitmen fundamental dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir... Kami berharap kami akan melihatnya," ujar Vance kepada wartawan usai 21 jam perundingan di Islamabad.
Tawaran Terakhir dan Keberlanjutan Diskusi
Meskipun perundingan berakhir tanpa kesepakatan, Vance menyatakan bahwa pihaknya tetap akan memberikan tawaran terakhir sebelum meninggalkan lokasi pembicaraan. Ia juga mengisyaratkan bahwa pihaknya masih memberikan waktu bagi Teheran untuk mempertimbangkan tawaran tersebut.
Sebelumnya, pada Selasa (7/4/2026), AS telah menyampaikan akan menangguhkan serangan bersama Israel selama dua pekan demi kelancaran proses negosiasi. Vance mengatakan bahwa pihaknya berangkat dari sini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode kesepahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik mereka.
Dinamika Perundingan yang Berlangsung Rumit
Perundingan ini berlangsung di sebuah hotel mewah di Islamabad, tempat kedua delegasi bertemu. Vance tidak menyebutkan perbedaan pendapat terkait isu krusial lainnya, termasuk masalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi penyebab kegaduhan ekonomi global.
Selat Hormuz merupakan jalur transit bagi seperlima pasokan minyak dunia yang diblokir oleh Iran sejak konflik meletus, memicu lonjakan harga energi global. Namun, Vance tidak menyinggung hal ini dalam pernyataannya.
Peran Presiden Donald Trump dalam Perundingan
Vance juga menyatakan bahwa Presiden Donald Trump bersikap akomodatif selama perundingan. Ia mengatakan bahwa presiden mengingatkan delegasi untuk datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan. Meskipun begitu, Vance menyatakan bahwa tidak ada kemajuan yang bisa dicapai.
Persiapan untuk Putaran Berikutnya
Pemerintah Iran melalui platform X menyatakan bahwa para ahli teknis dari kedua belah pihak akan saling bertukar dokumen. Mereka menegaskan bahwa negosiasi akan terus berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan pandangan.
Dialog tatap muka ini menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama bagi kedua negara sejak Revolusi Islam 1979 dan yang pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir. Hasil dari diplomasi ini dinilai sangat krusial karena akan menentukan nasib gencatan senjata yang baru berumur dua pekan.
Delegasi yang Hadir dalam Perundingan
Delegasi AS diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan penasihat senior Jared Kushner. Sementara itu, Iran mengutus Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Berdasarkan keterangan sumber dari pihak mediator, tensi perundingan dilaporkan naik-turun seiring dengan perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Sejauh ini, pemerintahan Presiden Donald Trump belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil perundingan maupun sengketa yang masih tersisa.