ESDM: Bensin Campur Etanol 5% Mulai Juli 2026

Bang Hendra
0

Kebijakan E5 yang akan Diberlakukan di Beberapa Wilayah Indonesia

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengumumkan kebijakan baru terkait penggunaan bensin campuran etanol. Mulai Juli 2026, penggunaan bensin dengan campuran etanol sebesar lima persen atau yang dikenal sebagai mandatori E5 akan diberlakukan di beberapa lokasi tertentu. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi.

Eniya menjelaskan bahwa penerapan E5 hanya berlaku di sejumlah titik karena adanya keterbatasan pasokan bahan baku etanol. Titik-titik tersebut mencakup Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, dan Lampung. Ia menekankan bahwa bahan baku untuk E5 harus berasal dari dalam negeri, bukan impor, guna mendukung ketahanan energi nasional.

“Kemarin sudah kami identifikasi berapa banyak etanol fuel grade (untuk bahan bakar) yang bisa dihasilkan. Baru teridentifikasi tiga perusahaan,” kata Eniya. Menurut data yang ada, kapasitas produksi bioetanol dari ketiga perusahaan tersebut berkisar di angka 26 ribu kiloliter (KL). Rincian alokasi volume akan dicantumkan dalam regulasi baru berupa keputusan menteri (kepmen).

Selain itu, Eniya menyampaikan bahwa pemberlakuan mandatori E5 akan dilakukan bersamaan dengan mandatori B50. Penerapan E5 juga telah dilakukan uji coba oleh Pertamina, sehingga BBM tersebut sudah mulai beredar di pasar.

“Pertamina sudah membangun 179 lokasi. Dia akan tambah 30 lokasi lagi. Nah, ini yang sedang kami tunggu banget adalah keluarnya revisi PMK (Peraturan Menteri Keuangan) tentang Cukai,” ujar Eniya. Selain menunggu revisi PMK, ia juga menunggu kepastian ihwal jenis izin yang dibutuhkan, apakah Izin Usaha Industri (IUI) atau izin usaha niaga (IUN).

“Sekarang, karena KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia)-nya kami tarik ke Kementerian ESDM untuk biofuel, sudah bisa jelas bahwa nanti tidak perlu IUI,” kata Eniya. Dengan demikian, ia berharap bisa menyederhanakan proses perizinan. Jika jenis izin merupakan IUI, pelaku usaha perlu mengurus rekomendasi gubernur dan persyaratan lainnya.

Langkah-Langkah yang Dilakukan untuk Mendukung Pengembangan Bioetanol

Untuk mendukung penerapan E5, pemerintah melakukan beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah meningkatkan produksi bioetanol dalam negeri. Saat ini, hanya tiga perusahaan yang telah teridentifikasi sebagai produsen bioetanol. Kapasitas produksi mereka mencapai 26 ribu kiloliter per tahun. Namun, pemerintah berencana untuk menambah jumlah produsen agar dapat memenuhi kebutuhan pasar.

Selain itu, pemerintah juga sedang menyiapkan regulasi yang akan mengatur penggunaan E5. Regulasi ini akan berupa keputusan menteri yang akan menentukan rincian alokasi volume bioetanol untuk setiap wilayah. Dengan adanya regulasi ini, penerapan E5 dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan terkontrol.

Pertamina, sebagai salah satu pelaku utama dalam industri BBM, juga telah melakukan uji coba E5 di berbagai lokasi. Sejauh ini, telah dibangun 179 lokasi pengisian E5, dan rencananya akan ditambah sebanyak 30 lokasi lagi. Namun, penambahan lokasi ini bergantung pada keluarnya revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang cukai.

Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan

Meskipun penerapan E5 menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar, masih ada tantangan yang perlu dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan pasokan bahan baku etanol. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah perlu mempercepat pengembangan industri bioetanol dalam negeri.

Selain itu, proses perizinan juga menjadi fokus utama. Dengan perubahan KBLI yang menempatkan biofuel di bawah kementerian ESDM, harapan besar diarahkan kepada penyederhanaan proses izin. Jika tidak diperlukan IUI, maka proses perizinan akan lebih efisien dan cepat.

Dengan adanya langkah-langkah ini, pemerintah berharap dapat menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan dan mandiri. E5 diharapkan menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan ketersediaan bahan bakar alternatif.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default