Komentar Influencer Jerome Polim terhadap Penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat
Jerome Polim, seorang influencer yang dikenal dengan pendiriannya yang tegas, turun mengomentari insiden penilaian dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Insiden ini menimbulkan kontroversi setelah peserta dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus 5 dari juri meski memberikan jawaban yang sama dengan peserta dari SMAN 1 Sambas.
SMAN 1 Sambas justru mendapatkan poin penuh, sementara peserta dari SMAN 1 Pontianak merasa tidak adil. Jerome Polim menyampaikan kekecewaannya melalui media sosial Instagram, di mana ia menulis:
"Kasus cerdas cermat sedang rame, hadeh jujur gregetan lihatnya."
Ia juga menyoroti mentalitas juri yang dianggap tidak dapat diganggu gugat. "Paling gak suka mentalitas: Juri pasti benar, keputusan enggak bias diganggu gugat," tulisnya.
Menurut Jerome Polim, juri adalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan. Ia menilai bahwa pernyataan "juri pasti benar" tidak relevan, terutama dalam acara seperti LCC yang membutuhkan jawaban eksak dan objektif.
"Juri juga manusia, bukan Tuhan. Bisa salah kok. Apalagi ini di acara cerdas cermat yang soalnya EKSAK, jawabannya tuh PASTI, bukan subjektif," tulis Jerome Polim.
Ia menegaskan bahwa sikap pendidik yang tidak mau mengakui kesalahan akan berdampak negatif pada pengembangan keterampilan berpikir kritis generasi muda. "Peran terpenting seorang pendidik adalah: BISA NURUNIN EGO BUAT NGAKU SALAH," tulisnya.
Jerome Polim juga membandingkan sikap juri dalam lomba debat tersebut dengan pengalamannya sebagai siswa. Ia mengaku pernah mengajak diskusi jika ada guru yang menyalahkan jawaban ujiannya. "Aku bakal kasih bukti kenapa aku benar, dan bersyukurnya dulu guru aku bukan tipe yang enggak mau didebat. Akhirnya aku punya mentalitas kalau aku yakin benar, aku bakal fight for it," imbuhnya.
Ia juga memuji sikap peserta lomba yang berani menyampaikan keberatan terkait kesalahan pihak juri. "Untuk adik yang udah berani speak up, kamu keren! Pokokonya harus berani fight untuk kebenaran," tulisnya.
Selain itu, Jerome Polim meminta juri dan MC acara lomba debat tersebut untuk meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. "Untuk juri dan MC yang udah salah tapi masih gaslighting meskipun pesertanya udah speak up, kalian harus minta maaf sih. Seindonesia udah lihat dan udah jelas banget yang salah siapa," imbuhnya.
Awal Mula Polemik
Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sembilan sekolah menengah atas di Kalimantan Barat. Tiga sekolah yang lolos ke babak final adalah SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Polemik muncul saat sesi rebutan jawaban dengan pertanyaan, “DPR dalam memilih anggota BPK, wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?” Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab.
“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” ujar seorang siswi dari Regu C. Namun, dewan juri justru memberikan pengurangan nilai sebesar lima poin kepada Regu C.
Pertanyaan kemudian dilempar ke regu lain dan dijawab oleh Regu B dari SMAN 1 Sambas. Jawaban mereka sama dengan Regu C, dan juri menyatakan jawaban Regu B benar. “Inti jawaban sudah benar. Nilai sepuluh,” ucap juri.
Keputusan tersebut langsung diprotes oleh Regu C karena merasa telah memberikan jawaban yang sama. “Isin, kami tadi menjawabnya sama seperti Regu B,” kata peserta Regu C. Juri kemudian menjelaskan bahwa Regu C dianggap tidak menyebutkan unsur “pertimbangan DPD”. Namun, Regu C membantah penjelasan tersebut dan bahkan meminta audiens memberikan kesaksian.
Meski demikian, hasil akhir perlombaan tidak berubah. Regu B dari SMAN 1 Sambas tetap keluar sebagai juara tingkat provinsi karena unggul secara keseluruhan atas Regu C dari SMAN 1 Pontianak.
MPR Minta Maaf
Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Akbar menegaskan bahwa MPR RI akan menindaklanjuti kejadian tersebut sekaligus mengevaluasi keseluruhan kinerja dewan juri dan sistem perlombaan LCC Empat Pilar.
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” kata Akbar dalam keterangan resmi MPR RI, Senin (11/5/2026).
Pimpinan MPR unsur DPD RI itu menyayangkan adanya polemik dalam penilaian lomba, dan mengingatkan pentingnya juri bersikap objektif serta responsif terhadap keberatan peserta di lapangan.
Oleh karena itu, lanjut Akbar, insiden tersebut akan menjadi catatan penting agar pelaksanaan LCC Empat Pilar ke depan berjalan lebih baik dan profesional.
Lebih lanjut, Akbar juga menyinggung adanya unsur kelalaian dari panitia maupun dewan juri, terutama terkait aspek teknis tata suara dan mekanisme banding dalam perlombaan. Bahkan, Akbar mengaku sempat mendengar adanya peristiwa serupa yang terjadi pada pelaksanaan tahun lalu di provinsi lain.
“Saya melihat, Lomba Cerdas Cermat ini perlu dievaluasi supaya lebih baik. Jangan ada lagi kejadian seperti ini,” ujar dia.