Tren mode genderless merajalela di Jepang, Gen Z lupakan batasan gaya pria dan wanita

Bang Hendra
0

Tren Fashion Tanpa Batas Gender di Jepang

Tren fashion tanpa batas gender semakin menguat di Jepang, khususnya di kalangan Generasi Z. Gaya berpakaian kini lebih menonjolkan ekspresi diri, tanpa terlalu terikat norma tradisional tentang pakaian pria dan wanita. Hal ini mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat Jepang memandang identitas dan ekspresi melalui pakaian.

Salah satu contoh yang menarik adalah makin lazimnya pria menggunakan payung parasol saat musim panas. Di sisi lain, perempuan mulai tertarik pada item fashion yang selama ini identik dengan pria, seperti dasi. Perubahan ini tidak hanya terjadi di kalangan individu, tetapi juga diakui oleh pelaku industri mode yang mulai menyesuaikan produk dan strategi penjualan mereka.

Perusahaan Mode Adaptasi dengan Perubahan Selera

Raksasa fesyen pria Aoyama Trading meluncurkan produk Skinny Tie pada Januari lalu. Dasi ini dirancang khusus untuk perempuan dengan bentuk lebih tipis, lebih pendek, dan simpul yang lebih kecil dibanding dasi pria. Selain itu, perusahaan tersebut juga menjual setelan uniseks di area pakaian pria maupun wanita di toko mereka. Langkah ini diambil seiring perubahan selera konsumen muda.

Survei Aoyama Trading terhadap sekitar 850 pengguna aplikasi perempuan tahun lalu menunjukkan hampir separuh responden tertarik pada gaya berpakaian yang dirancang untuk pria. Menurut perusahaan, item fashion pria kini justru diminati perempuan muda. Dengan semakin sedikit pekerja yang mengenakan jas formal ke kantor, perusahaan itu juga mencari pasar baru. Salah satunya dari pelanggan perempuan, termasuk Gen Z.

Perubahan Selera di Kalangan Pria

Fenomena serupa terlihat di Sanyo Shokai. Perusahaan apparel besar itu mendapati tas kecil yang awalnya dirancang untuk perempuan justru laris di kalangan pria. Penjualan bulan pertama tote bag makan siang yang dirilis akhir November lalu mencapai sekitar tiga kali lipat dari target perusahaan. Pembeli utamanya justru pria berusia 30 hingga 40 tahun.

Banyak dari mereka bahkan membeli boneka beruang kecil untuk menghias tas tersebut. Detail ini menunjukkan pergeseran selera yang makin cair. Tren lain yang ikut naik adalah penggunaan parasol oleh pria. Pembuat payung Waterfront mencatat 23 persen pria berusia 30-an mulai memakai parasol tahun lalu, seiring suhu musim panas yang makin ekstrem.

Perusahaan pakaian pria Aoki juga melihat banyak pembeli payung parasol di tokonya adalah laki-laki. Menurut perusahaan, toko pakaian kerja membuat pria merasa lebih nyaman membeli produk tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa tren tanpa batas gender tidak hanya menjadi fenomena estetika, tetapi juga pengaruh terhadap perilaku konsumsi dan kepercayaan diri.

Kesimpulan

Perubahan tren fashion di Jepang mencerminkan pergeseran nilai dan pandangan masyarakat terhadap identitas gender. Dari penggunaan payung parasol oleh pria hingga perempuan yang memilih item fashion pria, semua hal ini menunjukkan bahwa gaya berpakaian kini lebih fleksibel dan individual. Industri mode pun harus terus beradaptasi agar bisa memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin beragam.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default