Artefak Filateli Ungkap Jejak Pendudukan Jepang di Semarang

Bang Hendra
0
Artefak Filateli Ungkap Jejak Pendudukan Jepang di Semarang

Pameran Filateli dan Arsip Sejarah di Kota Lama Semarang

Pameran filateli dan arsip sejarah bertajuk Dalam Cengkeraman Saudara Tua kembali menghadirkan berbagai benda-benda sejarah yang langka dan otentik. Acara ini diselenggarakan di Rumah Pohan, sebuah tempat yang memiliki nilai historis tinggi di kawasan Kota Lama Semarang. Pameran ini menampilkan koleksi-koleksi dari masa pendudukan Jepang di Indonesia, termasuk surat izin, perangko lawas, hingga mata uang yang digunakan pada masa itu.

Pameran ini tidak hanya menjadi wadah untuk menampilkan benda-benda sejarah, tetapi juga menjadi ajang edukasi bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih memahami perjalanan bangsa melalui dokumen-dokumen asli. Berbagai benda seperti surat pos, surat izin, dokumen administrasi pemerintahan, koran dan majalah terbitan masa itu seperti Djawa Baroe, serta berbagai arsip yang merekam kehidupan masyarakat pada era 1940-an turut dipamerkan.

Di bagian lain, pengunjung dapat melihat piringan gramofon lagu Indonesia Raya yang diproduksi pada tahun 1944. Benda ini menjadi salah satu objek yang menarik perhatian pengunjung karena memiliki nilai sejarah yang tinggi.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon hadir dalam acara tersebut dan memberikan apresiasi atas penyelenggaraan pameran. Ia menyatakan bahwa koleksi yang ditampilkan memiliki nilai historis karena memperlihatkan proses transisi sosial dan pemerintahan pada masa pendudukan Jepang secara lebih dekat.

"Jadi, dari benda-benda filateli inilah kita bisa melihat salah satu episode perjalanan bangsa kita terutama pada masa lampau itu. Bagaimana transisi terjadi dan juga bagaimana pemerintahan Jepang itu melakukan penjajahannya dengan sangat sistematis, strategis, dan karena memang dipimpin langsung oleh militer," ujar Fadli Zon.

Menurutnya, kehadiran artefak-artefak asli tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat langsung sumber sejarah yang selama ini lebih banyak dikenal melalui buku atau dokumentasi sekunder. Pameran ini merupakan bagian dari kegiatan Orasi Publik Filateli yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Jawa Tengah bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI, Pemerintah Kota Semarang, Pengurus Pusat PFI, dan Pohan Kultura Lestari.

"Ini dikurasi oleh kurator dan atas koleksi dari Pak Pohan yang sudah lama dan tekun mengumpulkan dari tahun 80-an sampai sekarang khusus untuk periode masa Jepang," terangnya.

Selain menjadi ruang apresiasi sejarah, kegiatan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap budaya, pariwisata, dan pembelajaran sejarah melalui arsip filateli. Fadli mengajak masyarakat, khususnya kalangan muda, untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana mengenal perjalanan bangsa melalui dokumen-dokumen asli yang masih terawat.

Menurutnya, periode pendudukan Jepang juga menjadi bagian penting yang berkaitan dengan proses menuju kemerdekaan Indonesia, termasuk lahirnya berbagai persiapan kelembagaan dan pembentukan kekuatan pertahanan yang kelak berperan dalam perjuangan kemerdekaan.

"Ya, mudah-mudahan ini bisa memberikan edukasi dan juga pelajaran, dan tentu daya tarik bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah karena ini bagian dari perjalanan bangsa kita dan bagaimana juga kemudian para pejuang, para pendiri bangsa kita berperan untuk melakukan kemerdekaan," ungkapnya.

Pameran yang digelar di kawasan bersejarah Kota Lama tersebut turut melibatkan berbagai pihak, seperti komunitas filatelis, kolektor arsip, akademisi, serta pegiat sejarah. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyambut baik penyelenggaraan pameran filateli dan arsip sejarah tersebut.

Menurutnya, kehadiran pameran yang menampilkan berbagai koleksi langka dari masa pendudukan Jepang menjadi nilai tambah bagi kawasan Kota Lama yang terus berkembang sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.

Agustina menilai kegiatan semacam ini tidak hanya menghadirkan ruang edukasi bagi masyarakat, tetapi juga memperkaya ragam atraksi yang dapat dinikmati pengunjung Kota Lama Semarang.

'Ini memperkaya Kota Lama, Kota Semarang. Terima kasih," ujar Agustina.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default