Ketua LSM Harimau Bantah Keroyok Kades Purwasaba: Kami Datang untuk Advokasi, Bukan Demo

Bang Hendra
0
Ketua LSM Harimau Bantah Keroyok Kades Purwasaba: Kami Datang untuk Advokasi, Bukan Demo

Penyangkalan LSM Harimau terhadap Tuduhan Pengeroyokan

Ketua LSM Harimau, Prakas, secara tegas membantah tuduhan bahwa dirinya dan anggotanya melakukan pengeroyokan terhadap Kepala Desa Purwasaba. Menurutnya, kehadiran mereka di Kantor Desa Purwasaba bukan untuk berdemonstrasi, melainkan untuk mendampingi sejumlah peserta yang tidak lolos dalam proses penjaringan perangkat desa.

Pendampingan tersebut dimulai ketika beberapa peserta seleksi perangkat desa yang tidak lolos meminta bantuan kepada LSM Harimau. Dalam audiensi yang berlangsung pada hari Sabtu, Prakas menegaskan bahwa tujuan utama dari kehadiran mereka adalah untuk melakukan pendampingan advokasi, bukan untuk menyampaikan protes.

Temukan Dugaan Kejanggalan 'Bank Soal'

Dalam audiensi tersebut, LSM Harimau yang mewakili sekitar sepuluh peserta seleksi mempertanyakan transparansi panitia, khususnya terkait penggunaan bank soal yang disimpan dalam sebuah flashdisk. Prakas menilai hal itu tidak wajar karena sebelumnya ada saran agar panitia menggunakan soal baru.

"Ketika kami tanyakan soal flashdisk itu, ketua panitia tidak bisa menjelaskan," ujar Prakas. Ia menambahkan bahwa situasi mulai tegang saat Kepala Desa ikut terlibat emosi, padahal yang mereka tanyakan adalah pihak panitia.

Prakas juga mengeklaim bahwa kericuhan pecah bukan karena provokasi pihaknya, melainkan dipicu oleh kehadiran orang-orang dari luar daerah yang ikut tersulut emosi di ruang audiensi. Ia pun menyatakan memiliki rekaman video utuh sebagai bukti untuk membantah tudingan pengeroyokan.

Laporan ke Polres Banjarnegara

Buntut dari polemik ini, sepuluh peserta seleksi yang merasa dirugikan telah resmi melayangkan laporan ke Polres Banjarnegara. Mereka mendesak agar proses seleksi perangkat desa diulang jika nantinya ditemukan pelanggaran administratif oleh pihak Inspektorat.

"Jika memang ditemukan kesalahan atau pelanggaran secara administratif, kami minta penjaringannya diulang demi transparansi," tegas Prakas. Ia juga menepis isu bahwa kericuhan terjadi karena anggotanya tidak lolos seleksi. Dari sepuluh peserta yang didampingi, hanya satu orang yang merupakan kader LSM Harimau.

Bahkan, anggota tersebut menyatakan siap mundur jika pencalonannya memicu polemik, asalkan proses seleksi berjalan jujur.

Kades Hoho Mengaku Dipukuli

Sebelumnya diberitakan, Kepala Desa Purwasaba, Welas Yuni Nugroho atau yang populer disapa Hoho Alkaf, mengaku menjadi korban pengeroyokan hingga mengalami kerusakan atribut kedinasan dan cidera fisik. Insiden ini dipicu oleh desakan massa yang menuntut pembatalan hasil penjaringan perangkat desa.

Hoho diserang saat hendak meninggalkan lokasi tak lama setelah audiensi yang berlangsung memanas. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, @hoho_alkaff, Hoho menceritakan momen mencekam saat dirinya dihujani pukulan dari berbagai arah sebelum sempat mendapatkan pengawalan ketat dari aparat keamanan.

"Waktu saya baru keluar dari pintu aula, sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, dan depan. Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan," ungkap Hoho, Rabu (12/3/2026).

Akibat serangan tersebut, kacamata Hoho pecah, pakaian dinasnya robek, dan atribut papan namanya terlepas akibat ditarik-tarik massa. Ia menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial hanya memperlihatkan saat dirinya sudah berada di belakang mobil pengamanan, sehingga momen pengeroyokan awal tidak terekam secara utuh.

Hoho membeberkan bahwa pemicu demonstrasi adalah kekecewaan salah satu anggota LSM yang tidak lolos seleksi perangkat desa. Massa menuntut proses seleksi diulang, namun Hoho bergeming karena merasa seluruh tahapan sudah sesuai regulasi yang berlaku.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default