Sejarah dan Proses Pembuatan Cabuk Wonogiri
Cabuk Wonogiri adalah salah satu makanan tradisional yang terbuat dari biji wijen dengan warna hitam pekat, tekstur lembut, serta rasa yang unik yaitu manis, gurih, dan sedikit pahit. Makanan ini memiliki sejarah panjang dan diproduksi secara turun-temurun sejak sekitar tahun 1930-an di Dusun Pengkol. Salah satu pengrajin yang masih mempertahankan usaha keluarga tersebut adalah Sarmin (75 tahun), yang merupakan generasi ke-5 dalam keluarga tersebut.
Meski tidak terlalu dikenal oleh generasi muda, cabuk tetap diminati dan sering dijadikan sebagai oleh-oleh khas Wonogiri. Pelanggan cabuk ini bahkan berasal dari berbagai daerah seperti Solo hingga Karanganyar.
Proses Produksi yang Memakan Waktu
Di tengah suasana rumah tradisional di Dusun Pengkol, Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri Kota, Jawa Tengah, asap kayu bakar mengepul pelan dari dapur. Aromanya menguar ke lorong-lorong rumah sementara api dari pawon masih menyala, menjaga kehidupan di dapur.
Sarmin, sang pemilik rumah, menjelaskan bahwa proses pembuatan cabuk dimulai setelah adzan selesai. "Setelah adzan mulai menggiling wijen ya, nunggu adzan selesai dulu," katanya.
Cabuk khas Wonogiri ini berbeda dengan cabuk rambak khas Solo. Cabuk Wonogiri memiliki tampilan warna hitam pekat dan dibuat dari biji wijen yang diolah melalui proses cukup panjang. 
Sejarah yang Berawal Sebelum Kemerdekaan
Rumah produksi cabuk di Dusun Pengkol sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Tak heran, Sarmin menjadi generasi ke-5 yang menjaga usaha turun-temurun ini. "Sudah dari wareng saya itu. Dari simbok, simbah, mbah buyut, mbah canggah, wareng. Wareng itu setelah mbah canggah. Mungkin sejak tahun 1930-an," ujarnya.
Dulu, sambal cabuk adalah makanan umum di tengah masyarakat. Meski saat ini permintaan cabuk tetap banyak, namun banyak generasi muda yang tak mengenalnya. "Kalau zaman dulu, sambal cabuk itu penting. Dulu kan makannya daun-daunan, gudangan itu. Cabuk itu tahan beberapa hari. Cabuk itu dikecap-kecap ketimbang buk," kata dia.
Rasa yang Unik dan Populer sebagai Oleh-Oleh
Menurut Sarmin, cabuk masih menjadi primadona oleh-oleh khas Wonogiri. Meskipun warnanya hitam pekat, mungkin tidak semenarik makanan lain. Namun rasa yang ditawarkan istimewa dan kaya akan rasa. Rasanya manis, gurih dengan sedikit rasa pahit. Teksturnya lembut dan halus.
"Kalau saya cuma bikin bahannya. Kalau yang bikin sambal cabuk anak saya. Mantu saya ada juga yang jual cabuk di pasar," jelasnya.
Pada hari biasa, Sarmin hanya membuat 10 kilogram wijen. Namun, pada musim lebaran, permintaan meningkat drastis. "Kalau jelang lebaran dan setelah hari lebaran bisa sampai 30 kilogram. Ada terus yang ambil kalau lebaran," imbuhnya.
Pelanggan yang Datang dari Berbagai Daerah
Meskipun di tengah-tengah gempuran kuliner-kuliner kekinian, eksistensi cabuk Wonogiri ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Sarmin juga menuturkan bahwa pelanggan cabuknya tidak hanya berasal dari Kota Wonogiri saja, akan tetapi pembeli datang dari beberapa kecamatan bahkan luar Kabupaten Wonogiri.
"Pelanggan saya itu bukan hanya Wonogiri saja, bahkan ada yang dari Kota Solo dan Karanganyar," ujarnya.