Rupiah Terpuruk Akibat Krisis Timur Tengah, BI Siaga Intervensi Pasar

Bang Hendra
0


Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami tekanan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pihaknya tetap siaga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah dibuka melemah sebesar 44 basis poin atau 0,26% ke level Rp16.916 per dolar AS. Pelemahan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS yang mencapai 0,14% ke posisi 99,19.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bahwa bank sentral akan terus melakukan langkah-langkah pencegahan dini dan hadir di pasar valuta asing (valas) untuk mencegah dampak dari krisis yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

"Kami akan terus melakukan intervensi yang tegas dan konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward [NDF] di pasar offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward [DNDF] di pasar domestik. Selain itu, kami juga akan melakukan pembelian SBN [surat berharga negara] di pasar sekunder," kata Destry dalam pernyataannya, Rabu (4/3/2026).

Meskipun sedang dalam tren depresiasi, Destry menekankan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan regional. Ia mencatat bahwa secara month to date (MtD), rupiah melemah sebesar 0,51%, yang relatif lebih baik dibandingkan dengan kinerja negara-negara tetangga.

Selain itu, fundamental dan ketahanan eksternal Indonesia masih sangat solid. Hal ini terlihat dari posisi cadangan devisa yang tetap terjaga di level US$154,6 miliar pada akhir Januari 2026. Arus masuk modal asing (capital inflow) di pasar keuangan domestik sepanjang tahun ini juga tercatat positif, mencapai Rp25,7 triliun.

Perkembangan Mata Uang Negara Tetangga

Tren depresiasi yang terjadi pagi ini tidak hanya menimpa rupiah. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga mengalami penurunan terhadap dolar AS. Contohnya, rupee India anjlok 0,55%, baht Thailand turun 0,36%, dan peso Filipina terdepresiasi 0,29%. Sementara itu, dolar Singapura (-0,09%), ringgit Malaysia (-0,05%), dolar Hong Kong (-0,03%), dan yuan China (-0,02%) mengalami pelemahan yang lebih terbatas.

Di kawasan Asia, hanya won Korea Selatan dan yen Jepang yang berhasil melawan dominasi dolar AS, masing-masing mencatatkan penguatan sebesar 0,38% dan 0,11%.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa rupiah pada Rabu (4/3/2026) masih akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah terbatas dalam rentang Rp16.870 – Rp16.910 per dolar AS.

Sentimen Global dan Dampaknya

Sentimen utama global saat ini berasal dari meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Israel yang semakin meluas. Israel menyerang Lebanon, sementara Iran membalas dengan menargetkan infrastruktur energi negara Teluk serta kapal tanker di Selat Hormuz.

Akibatnya, tarif pengiriman minyak dan gas melonjak, dan harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa hari ke depan. Kenaikan harga energi ini berisiko mendorong inflasi global dan memperkuat dolar AS.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default