Desa Cabeyan, Kekayaan Tradisi dan Kebersamaan di Sukoharjo
Desa Cabeyan yang berada di Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu desa yang masih menjaga nilai-nilai tradisi, kebersamaan warga, serta memiliki kisah legenda yang diwariskan turun-temurun. Desa ini terdiri dari beberapa dusun seperti Banyuripan, Cabeyan, Plarung, Pundungsari, Ringinanom, Rejosari, dan Tundungan. Kehidupan masyarakatnya masih kental dengan budaya gotong royong dan nuansa pedesaan yang asri.
Lokasinya berjarak 26 kilometer dari Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 51 menit kendaraan pribadi. Desa ini juga dikenal dengan sejarah panjang yang berawal dari sebuah kawasan hutan lebat di tanah Jawa pada masa lampau. Di tengah hutan tersebut berdiri sebuah pohon beringin putih yang besar dan megah, dikelilingi semak-semak cabai yang tumbuh subur.
Pada suatu waktu, datang seorang pengembara bernama Perjit yang mencari tempat untuk beristirahat dan menetap. Ia dikenal sebagai sosok petualang yang menjelajahi banyak wilayah. Ketika tiba di kawasan hutan tersebut, Perjit merasakan ketenangan dan memutuskan tinggal di dekat pohon beringin putih. Ia membangun rumah sederhana dari bambu dan dedaunan. Untuk bertahan hidup, Perjit memanfaatkan hasil alam sekitar, termasuk ubi jalar yang menjadi makanan favoritnya.

Seiring waktu, keberadaannya menarik perhatian pengembara lain yang kemudian ikut menetap dan membuka lahan pertanian di sekitar kawasan tersebut. Masyarakat mulai menanam berbagai tanaman, terutama cabai yang tumbuh sangat subur di wilayah itu. Dari kebiasaan masyarakat menyebut “caben-caben” atau cabai-cabai, muncul nama “Cabeyan” yang kemudian menjadi identitas desa hingga sekarang.
Komunitas yang tumbuh di bawah naungan pohon beringin putih itu hidup rukun dan damai. Mereka menciptakan aturan, tradisi, dan nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, Desa Cabeyan dikenal sebagai simbol kekuatan komunitas dan kecintaan masyarakat terhadap tanah tempat mereka tinggal.
Pasar Pon dan Pasar Kliwon, Denyut Kehidupan Warga
Salah satu tradisi yang masih bertahan di Desa Cabeyan adalah keberadaan Pasar Pon dan Pasar Kliwon. Pasar kecil ini digelar setiap hari pasaran Pon dan Kliwon dalam penanggalan Jawa, mulai pukul 06.30 hingga 10.00 WIB. Meski ukurannya tidak sebesar pasar tradisional pada umumnya, pasar ini memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat desa.
Suasana pasar terasa hangat dan akrab karena sebagian besar pedagang maupun pembelinya merupakan warga sekitar. Berbagai kebutuhan sehari-hari dijual di pasar tersebut, mulai dari ayam segar, sayur-mayur hasil kebun, hingga makanan siap santap seperti pecel dan sate. Selain itu, tersedia pula kebutuhan rumah tangga seperti sabun dan peralatan dapur sederhana.
Keberadaan Pasar Pon dan Pasar Kliwon sangat membantu warga karena mereka tidak perlu pergi jauh ke pasar besar untuk memenuhi kebutuhan harian. Lebih dari sekadar tempat jual beli, pasar ini juga menjadi ruang sosial bagi warga untuk bertemu, berbincang, dan mempererat hubungan antartetangga. Ibu-ibu yang datang berbelanja kerap memanfaatkan momen tersebut untuk berbagi cerita dan bertukar resep masakan.
Suasana sederhana tanpa hiruk-pikuk justru menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di kota besar. Bagi masyarakat Desa Cabeyan, pasar ini bukan hanya pusat ekonomi kecil, melainkan juga simbol kebersamaan dan kekompakan warga desa.